Friday, December 30, 2011

一目愛

mengenang tahun 2011

kusingkap mimpi ketika bertemu dengan mu
mungkin hanya cobaan yang membekas
sebagai pelipur lara dari semua problema
atau bisa jadi....
sebagai bonus dari yang Kuasa
karena lelucon dulu bersama teman-teman
"terlalu kagum dengan yang tua"
muncullah kamu "dari golongan yang muda"

kamu yang pandai berbahasan inggris..
memotivasi ku untuk mengungguli di bahasa jepang..
tapi siapa aku??
berharap pada yang tak pasti hanya menjadi beban
tapi motivasi itu..
setiap ada yang menginspirasi,,pasti akan ku catat sebagai bekal perjalanan..
dan kamu salah satunya..

ada kata-kata indah untuk menggambarkannya...
Tentang seorang yang ingin ku kenal... aku ingin mengenalimu dengan cara Tuhanku.. 
Biar Dia yang memberikan jawaban.. Apakah kamu seorang itu..


彼について

sepertinya harus cepat-cepat menulis.. hmmm.. berasa ada halilintar yang bermain "disini"... 

Ya Rabbi.. 
Walaupun hanya sekedar tulisan-tulisannya yang terbaca..
seakan tulisan itu hidup dan berbicara...
Benar-benar sepertinya mengenal betul orangnya..

Agamis
cerdasnya tak teragukan
mimpi-mimpinya bak seorang pangeran
"jalan-jalan"

ia yang terlahir dalam keluarga yang berada.. sehingga pendidikan memiliki arti penting bagi sebuah kesuksesan.. berawal dari sebuah SMA favorit,,berlanjut ke institut paling favorit.. dan ketika sudah diterima di perusahaan favorit pun ia memutuskan untuk keluar.. mencari dunia baru yang belum pernah ia kenal sebelumnya.. ia banting stir ke jalur PENDIDIKAN...

hmm.. sesuatu yang mustahil.. bahkan ketika ada orang lain yang mengambil "jalur yang salah" biasanya timbul "ke-berang-berangan-,,tapi ketika mereka,,terlahir sebuah KEKAGUMAN...

Young lecturer. National Geographic enthusiast.  (not quite) Wordsmith. Seasonal traveler. Big dreamer.

and wawhh..
setiap membaca kisah dan tulisannya selalu merasa "miskin" ilmu dan pengalaman..

tentang minarsih.. 
murid istimewa yang mampu ia bawa ke jakarta untuk mengikuti olimpiade sains tingkat nasional..

catatan di penghujung tahun
di hari jum'at itu
akhir bulan november 2011

Friday, December 16, 2011

Masihkah ada sakit "disini"?

lebih baik tertulis daripada berdampak
lebih baik diungkap walau sekadarnya daripada mengakibat
rasa itu ada "disini" (sambil menunjuk hati)...


mungkin sudah beberapa lama tapi sangat membekas
ketidakadilan yang memenuhi kepala hingga rongga dada
mungkin hanya su'udzon terhadap saudara
entah mengapa,,perilakunya terasa sangat diluar batas


ya Rabbi... aku tau ini tidak baik
aku tau ini salah
tapi bahkan melihat wajah pun terasa aku tak suka
gerammm dan inginn ............................. arrgghhh....
mungkin keterlaluan saja akunya...


padahal dulu tidak begini
biasa saja bahkan akrab pun bisa
bahkan airmata pernah menetes cinta karenanya
begitu berat beban yg dipikul dan tak ayal
karakter pun terbentuk hingga begitu sempurna


mungkin karena mimpi
mungkin juga karena ego
mungkin karena terpaksa
jalan ini dipilihnya
jalan yang memang tidak mudah
dan ia pun tau akan banyak orang yang membencinya
dan ternyata aku pun demikian


siapa suruh ia begitu
terkesan menghamburkan harta padahal  tak punya
terkesan tak punya padahal ia pun menghamburkan harta
begitu menyepelekan
dan begitu memanfaatkan
hupthhhh....


malam ini terucap kata maaf
walauu hanya beberapa baris pesan pendek
maaf atas segala hak yg belum terpenuhi


berbicara hak,,tak ayal pasti berbicara kewajiban..
hmmm.... kewajiban pun rasanya belum selesai aku tuntaskan
mau atau selalu menuntut hak??
apakah pantas..


tapi itulah sumber malapetaka hubungan kita
antara hak dan kewajiban:
hak dan kewajiban sebagai pemimpin
dan hak beserta kewajiban sebagai anggota
tak kan habis...


lantas,,masihkah ada sakit "disini"?
sehingga melihat dan menatap wajah pun enggan
sehingga sikap-sikap yang sangat menghindar dan begitu bertolakbelakang


masihkah ada luka??
padahal waktu semakin sempit di penghujung waktu bersama
masihkah ego yang begitu tinggi??
padahal ada kata maaf yang tercipta...


Ya Rahim.. Sembuhkanlah rasa ini
hapus semua gelitik-gelitik sanubari yang menyisakan rasa kesinisan yang begitu mendalam
lembutkan hati untuk merasakan
merasakan kepahitan dari perjuangan
merasakan indahnya berjuang bersama di jalan Muu yang penuh keberkahan...


Aamiin.. Aamiin Ya Robbal'alamin....

Wednesday, December 14, 2011

Rumah Cahaya I


Ya Allah..mungkin dunia ini bukan hal yang baru bagi ku.. saudara ku mengibaratkan kehidupan yang ada di dalamnya seperti sebuah rumah. Mungkin akan sedikit aku jabarkan bagaimana kondisi rumah ini..

Jika ia sebuah rumah, dapat di gambarkan ia adalah rumah yang tampak sederhana. Namun cahaya melingkupi rumah tersebut. Jika kamu melihatnya dari jauh, kamu akan silau dengan cahaya yang menyinarinya. Ada dua kemungkinan ketika kamu melihatnya. Yang pertama, kamu akan semakin mendekat, mencari tau mengapa rumah itu tampak terang, apakah ia perumpaan surga? Lalu yang kedua, kamu akan berbalik pergi, enggan mendekat karena sinarnya menyakitkan mata mu yang melihat.

Ya Allah, sesungguhnya aku ini tipe orang yang mudah sekali penasaran, maka dari itu, mungkin aku termasuk ke dalam orang yang pertama. Lalu ketika tertarik dan mulai mencari tau ada apa dengan rumah tersebut, aku banyak belajar dari orang-orang sekitar. Sebelumnya aku tidak tau bahwa orang-orang yang ada dilingkungan itu adalah penghuninya. Tibalah aku yang secara perlahan bersosialisasi dengan penghuni. Aku nyaman dengan mereka, walau mereka punya cara pandang yang sedikit berbeda. Mereka lebih taat, sedangkan aku?? Belepotan dengan dosa.

Ya Allah, ketika bergaul dengan mereka, aku diajak untuk semakin mendekat ke dalam rumah  cahaya itu, amat terang cahayanya. Entah, aku belum tau saat itu, cahaya apa yang ada disana.

Setelah beberapa lama, aku semakin tertarik, dan dengan gaya kritis ku, aku selalu bertanya apa saja yang ingin ku tau dari rumah itu, namun ternyata, tidak semua orang dapat memberitahuku secara gamblang. Terkesan ada yang sangat amat disembunyikan. Ya Allah,,jujur aku semakin penasaran…

Beberapa lama waktu berlalu, aku pun mulai beranjak dari yang awalnya hanya melihat rumah itu dari jauh, kini sudah semakin mendekat dan sedikit melihat halamannya. Luar biasa Ya Allah, aku semakin kagum. Semakin dekat, semakin banyak juga perbaikan dalam diriku.

Suatu hari, saudaraku mengajak ku untuk masuk ke dalam rumah. Caranya sangat aneh dan kurang masuk akal bagiku yang sangat rasional. Selama ini, ketika semakin dekat dengan rumah itu, aku tau sedikit tata aturan untuk orang-orang yang tinggal disana. Dan aku tau, walau orang-orang disekitar berusaha menyembunyikan keadaan mereka bahwa sesungguhnya mereka adalah penghuni dari rumah itu, namun aku sudah mulai bisa membaca pergerakannya. Entah kenapa ya Allah. Ada kekuatan atau bahkan ada dorongan dalam diri untuk tau dan mencari tau. Karena sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa aku tipe orang yang gampang penasaran. Bagiku, selama masuk akal dan demi kebaikan ku sendiri, tidak ada salahnya aku patuh pada aturan. Hmmm..

Kembali ketika saudaraku mengajak ku untuk masuk ke dalam rumah itu. Begitu menginjak halamannya, jalan setapaknya, aku terkaget-kaget dengan yang ada. Ya Allah ternyata saudara/I ku banyak sekali yang tinggal drumah itu. Aku tidak menyangka. Ketika mulai diterangkan, lagi-lagi aku terkejut. Ternyata selama ini ada sesuatu.. jujur, aku mengalami disorientasi. Entah kenapa rasa kaget ini tidak hilang-hilang. Mulai dari menginjak ruang tamu, melihat barang-barang yang ada di dalamnya, melihat arsitektur rumahnya, sangat amat belum pernah ku bayangkan sebelumnya.

Azzam ku ketika aku masuk, aku bukan hanya sekedar ingin tau ada apa disana, aku ingin sesuatu yang lebih. Jika aku masuk ke dalamnya, aku ingin juga menolong Mu. Karena aku selalu ingat janji Mu dalam “Barang siapa yang menolong agama Ku, maka Aku akan menolongmu.”

Ya Allah, aku sadar waktuku amat singkat untuk berada dirumah itu. Aku harus berlari untuk menyusuri rumah dengan tetap melihat detail ornament dari setiap benda. Aku tau, mungkin aku akan lelah. Aku tau, aku harus cepat mengerti. Namun terkadang, otakku yang sangat rasional ini dan jiwa yang seakan-akan gerah karena merasa terkungkung, merasa sangat dibatasi. Banyak hal-hal yang belum aku mengerti. Dan aku tipe orang, yang jika aku belum mengerti tujuan, sasaran dan hasilnya, aku akan terus menggali, mencari informasi mengenai itu. Hmm.. entahlah.. semoga aku bukan hanya sebagai tamu, dirumah cahaya itu. Aku takut. Aku masih harus banyak belajar. Tanya mengapa?? Karena aku adalah orang yang gampang penasaran dan selalu ingin tahu. Dan aku bukan tipe orang yang suka dipaksa ataau ditekan.
Semoga rumah cahaya dapat menjadi feedback yang terbaik buat diri ku. Semoga rumah cahaya dapat juga menyinari aku dan orang-orang diluar yang belum tau apa rumah cahaya itu sesungguhnya..

Rumah cahaya…
Sinar mu menyilaukan mata kami yang melihatmu..
Sinar mu sebenarnya mampu untuk menerangi hati-hati kami yang butuh cahaya..
Sinar mu mampu menyinari seluruh alam ini..

Di rumah cahaya,,kita bersama
Aku belajar untuk menjadi penghuninya yang baik
Yang taat dengan segala peraturan yang ada di dalamnya

Karena aku yakin, rumah cahaya dapat membawa ku bahkan keluarga ku mencapai kehidupan yang lebih baik..

Semoga selalu istiqomah di rumah cahaya.


*mengenang suatu janji yang terjadi sekitar akhir bulan maret 2011*

Friday, December 9, 2011

Hanya aku, kamu dan Allah saja *Terinspirasi dari kisah Ali dan Fatimah


Ketika cinta menyapa kita.. aku tau kamu menyimpan semuanya.. tertutup rapat.. sering kali kau pun membisu,,menyimpan keraguan akan pertahanan dirimu.. akan kuatkah “aku bertahan”, mungkin begitu katamu… menjadi sebuah kebiasaan baikmu,,puasa sunnah senin-kamis itu.. membuat ku berpikir,,begitu caramu melindungi diri dari godaan itu..

Tidak dapat dipungkiri.. mungkin karena usia kini.. menjadikan aku, kamu dan mereka terpikir untuk membuat suatu perencanaan masa depan.. mungkin perlu kita ingat sebuah kisah indah sepanjang masa.. perjodohan antara Ali dan Fatimah yang Allah persatukan mereka dalam bingkai sebuah keluarga.. jalinan sebuah romantisme sejarah yang membuat merinding bulu roma.. cinta mereka tersimpan rapat.. saling mengagumi satu sama lain, namun tidak menjadikan mereka terhanyut pada cinta yang sesaat..

“menjadi sejantan ali”,,begitu banyak cerita.. yaa,,ali.. lelaki jantan,,sebuah pintu gerbang ilmu pengetahuan itu banyak menginspirasi.. ia jantan karena mempersilahkan saudaranya, abu bakar, umar, dan ustman untuk menyunting Fatimah.. namun, dari ketiga lelaki teristimewa itu, tiada seorang pun yang dipilih Fatimah.. lalu baginda Rasulullah pun menghadap ke ali,,mengapa ia tidak mencoba mempersunting puteri kesayangan rasul tersebut. Ali bukannya tidak mau,,ia malu karena tidak memiliki harta apapun untuk mempersunting puteri tercinta nabi.. karena itu ia mempersilahkan ketiga saudaranya untuk mempersunting Fatimah.. dengan bijak rasul pun meminta ali secara langsung untuk mempersunting puteri kesayangannya tersebut dengan mas kawin baju perang rasul yang diberikan kepada ali.. subhanallah..

menjadi sejantan ali.. perempuan mana yang tidak tergugah membaca atau mendengar kisah itu.. berharap ketika seorang lakilaki datang kepadanya, ia menjadi satu-satunya wanita seperti Fatimah dan ali pun menjadi satu-satunya laki-laki, dan keduanya dipersatukan Allah dalam mahligai keluarga yang indah.. dari mereka kemudian lahirlah cucu-cucu kesayangan nabi, yaitu Hasan dan Husein..

Menjadi sejantan ali,,mampukah kamu seperti itu? Menyimpan cinta dan menitipkannya hanya kepada Allah saja.. ia tak mampu bercerita karena ia sadar akan posisi dirinya yang tidak sejajar dengan puteri Rasulullah SAW.. menjadi sejantan ali,,mampukah engkau mencontohnya? Dengan mempersilahkan saudaramu untuk mempersunting gadis yang kau kasihi.. mungkin tidak hanya ali yang jantan.. ada sosok lain, sahabat rasul yang juga mempersilahkaan gadis pilihannya dipersunting oleh saudaranya sendiri, ia adalah Salman Al-Farizi.. Subhanallah.. Luar biasa kisah mereka..

Lalu, mampukah aku seperti Fatimah, yang setia menjaga kesucian cinta untuk lelaki yang diam-diam dicintainya? Hanya kepada Allah tempat ia mengadu.. dan tidak ada seorang pun yang tau, sekalipun itu adalah ayah kandungnya, Rasulullah SAW.. Fatimah teguh akan menjaga cinta, namun cinta itu tidak membuatnya buta.. ia selalu bermunajat kepada Allah dalam setiap doanya, “Yaa Rabbi, jika ia yang terbaik bagiku dan semakin mendekatkan ku pada Mu, maka dekatkahlah, namun apabila ia tidak baik bagiku dan semakin membuat aku jauh dariMu, maka jauhkanlah.. dan berikanlah seseorang yang baik bagiku, baik bagi agamaku dan semakin mendekatkan aku padaMu..”

Dari kisah diatas kita dapat bercermin,,bahwa sesungguhnya hanya aku, kamu dan Allah saja yang tau.. adanya hijab hati antara kita begitu bermakna.. tidak ada pembenaran dengan yang ada.. ketika kita masih belum dalam ikatan yang nyata adanya..

*teruntuk saudara dan saudari ku yang sedang galau dalam masa penantian.. hehehe.. semoga cepat dipertemukan… *

Tuesday, December 6, 2011

8 Langkah Mencegah Anak Durhaka


“Dan Rabb mu telah mewasiatkan hendaknya kamu jangan menyembah kepada selain Dia, dan hendaknya kamu berbuat baik kepada kedua orangtua…” (Al Isra’ : 23).
Hukum ‘Uququl Walidain
‘Uququl walidain adalah perbuatan durhaka atau menyakiti hati orangtua, baik dengan ucapan, atau perbuatan seperti memutus hubungan baik dengannya. Dan perbuatan jahat ini haram hukumnya dan termasuk dosa besar.
Dalil yang menyatakan demikian di antaranya riwayat dari Anas ibnu Malik, ia berkata, “Nabi ditanya tentang dosa dosa besar, beliau menjawab: yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada orangtua.” (Riwayat Bukhari).
Riwayat dari Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga, (dalam redaksi yang lain, Allah tiada akan melihatnya pada hari kiamat), yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.” (Riwayat An Nasa’i).
Di dalam Al Quran, larangan berbuat durjana kepada orangtua serta perintah agar berbakti kepada keduanya sangatlah banyak. Allah berfirman di dalam surat An Nisa’ ayat 36: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan Nya. Dan hendaklah kalian berbuat baik kepada orangtua…”
Ayat dan Hadits di atas menunjukkan betapa besar bahaya yang ditimbulkan karena mendurhakai orangtua. Yakni tidak dimasukkannya ke dalam surga dan terhalang mendapatkan rahmat Allah ta’ala.
Penyebab ‘Uququl walidain
Adapun penyebab durhaka kepada kedua orang tua boleh jadi karena kesalahan orangtua, atau salah dalam mendidik. Misalnya menyekolahkan anak di pendidikan keduniawian saja, atau di sekolah yang buruk lingkungannya, sehingga perilaku anak menjadi nakal, menjadikan moralnya liar dan ganas.
Penyebab lain adalah dari faktor orangtua yang tidak bisa dijadikan teladan, tidak adil, dan menyia-nyiakannya, seperti tidak mau mengurusinya, berbuat kasar dengan kata kata maupun tindakan, dan sering memarahinya. Selain itu juga kehidupan suami istri yang retak, orangtua yang selalu menjauh dan tidak akrab dengan anak anak, tidak ingin direpotkan anak, memanjakannya secara berlebihan, dan suka menzaliminya.
Sedang bentuk kedurhakaan dari faktor anak penyebabnya antara lain: anak malas belajar tauhid yang benar, enggan shalat di masjid, hobinya bergaul dengan anak anak nakal, dibesarkan di lingkungan yang materialistis dan serba permisif.
Maka tidak heran muncul anak yang dahulunya baik menjadi penentang, yang semula tawadhumejadi beringas.
Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Seseorang itu berdasarkan agama temannya, karena itu hendaklah di antara kamu melihat siapa kawannya.” (Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi).
Fenomena ‘Uququl walidain
Terdapat sejumlah indikasi anak durhaka, seperti: selalu menyusahkan orangtua dengan perkataan maupun perbuatan, membentak dan menghardiknya, berkata ‘ah!’ (hufh!), meremehkannya, atau menolak perintahnya. Juga bermuka masam, tidak berkenan menemani atau mengantar orang tua pada saat dibutuhkan, mengejek dan membodoh bodohkan, memperbudak, menghina masakannya, serta tidak mau membantu menyelesaikan pekerjaan dan bebannya.
Selain itu, tidak memperhatikan serta mengabaikan kebutuhannya, tidak memperhatikan nasihatnya, jarang meminta izin jika keluar rumah atau memasuki kamarnya, tidak mengakui sebagai orangtuanya, menyesali terlahirkan darinya. Atau juga melakukan kekejian di hadapannya, mencemarkan nama baik dan kehormatannya, terlalu banyak menuntut di luar kemampuannya, menginginkannya supaya cepat mati agar segera dapat warisannya, dan tidak pernah bersilaturahim, tidak pula mendo’akannya.
Namun tidak semua yang dapat menyakitkan hati orangtua atau menolak perintahnya dinamakan kedurhakaan (‘uququl walidain). Misalnya menolak perintah mereka yang melanggar agama, menolak untuk berbuat musyrik, bid’ah, dan maksiat. Jika ada ayah ibu memerintahkan putrinya untuk menanggalkan jilbab jika ke luar rumah, atau melarang shalat berjamaah, menyuruh membelikan rokok serta melakukan perbuatan mungkar lainnya, maka anak wajib menolaknya dan mendakwahinya dengan baik.
Rasulullah bersabda yang artinya: “Tidak wajib mentaati makhluk yang memerintahkan maksiat kepada Allah.” (Riwayat Ahmad) .
Menghindari ‘Uququl walidain
Anak durhaka bisa jadi berangkat dari orangtua yang durhaka pula alias menyepelekan hak hak anak. Untuk itu, para orangtua sudah sepatutnya melakukan koreksi diri.
Pertama, hendaknya setiap keluarga terutama bapak dan ibu, mendalami akidah dengan benar. Mengamalkan syariat Islam dan menjadikan dirinya teladan yang baik bagi anak anaknya.
Kedua, orangtua hendaknya istiqamah dalam perkataan dan perbuatan. Orangtua bukanlah pembuat hukum, sehingga semaunya sendiri boleh melanggar dan memaksa anak sementara dia sendiri tidak mampu membuktikan apa yang jadi perintahnya.
Ketiga, orang tua hendaknya menjaga lisan dan perbuatannya dari hal yang haram. Berbicara yang baik, penuh dengan kasih sayang kepada anak. Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallambersabda; “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata yang baik atau diam.” (Riwayat Muslim) .
Keempat, jika orangtua memperlakukan adil kepada anak, maka akan memberi kesan dan membendungnya dari kekecewaan dan kedurhakaan. Maka hendaknya berbuat adil.
“…Berbuat adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al Maidah: 8).
Kelima, selalu menasihati anak sebagaimana yang Allah perintahkan; “Hai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (At Tahrim [66]: 6).
Keenam, mendidik anak dengan pendidikan tauhid, menasihati mereka agar selalu merasa selalu diawasi Allah Ta’ala. Sebagaimana yang dilakukan Luqman kepada anaknya; “Hai anakku, jika ada perbuatan seberat biji sawi yang berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya balasan. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” (Luqman: 16).
Ketujuh, orangtua seharusnya memperhatikan pergaulan anak, lingkungan (bi’ah) yang kondusif memelihara tumbuhnya iman, mengarahkan mereka agar giat belajar, membiasakan berbuat baik, dan menjauhkan permainan yang merusak moral.
Kedelapan, orangtua wajib pula mendoakan anak anaknya agar mendapatkan hidayah, dan senantiasa dijaga dalam kebaikan.
Adalah sebuah kejanggalan, bila ada orang yang lebih dekat dengan sahabat, bergaul mesra dengan kolega, bisa harmonis dalam kerjasama dengan orang lain, namun kurang mesra bahkan jahat dengan orangtua atau anaknya sendiri.
Akhirnya, mari kita berupaya memperbaiki akidah, ibadah, akhlak dan muamalah dalam aktivitas keseharian kita. Semoga kita tidak termasuk bagian dari anak durhaka, atau orangtua yang durhaka, karena menelantarkan hak hak anak.
Abu Hasan-Husain

inspirasi kisah cinta Al Mustafa

Semoga tidak salah dalam mengartikan cinta....

Ya,,iya datang tanpa sengaja...

sering kali menjebak,,hanya bermodal perasaan ketimbang logika...

ia muncul untuk mengoyak,,, ia datang memberi harap....

namun hanya semu yang di dapat....


tentang cinta.. ia adalah keteguhan...

sebuah komitmen dan juga sebuah pengorbanan...

namun cinta juga sebuah ketegasan...

ketegasan untuk mengatakan YA jika BENAR...

dan TIDAK jika terjadi PELANGGARAN....


batasan itu tidak boleh pudar...

dekat bukan berati membenarkan...

cair bukan berarti tanpa pengentalan....


cinta bisa berarti juga sebuah kemunafikkan....

tak peduli siapa yang salah dan benar...

ingin menjaga perasaan seseorang,,,lantas yang lain disakitkan....


cinta manusia terhadap manusia lainnya tiada yang sempurna...

namun belajar dari sebuah kisah...

tentang cinta lelaki istimewa teruntuk kekasih yang amat di cintainya....


SAB, 04 JUN 2011 20:42 | 91KADUK | DEYNARASHID
'Ketika Rasulullah berada di hadapan, ku pandangi pesonanya dari kaki hingga hujung kepala. Tahukah kalian apa yang menjelma? CINTA!!' (Abu Bakar As-Siddiq r.a)
Langkah kaki pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu di atas kepalanya. Sesetengah berbisik berkatalah Abu Bakar, "Wahai Rasulullah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua."
Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya sahabat karibnya ini perlahan sambil berkata, "Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam iaitu Yang Maha Kuasa".
Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali dia tidak khuatir keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, dia hanya lelaki biasa. Sedang untuk lelaki tampan yang kini dekat disampingnya, keselamatan diatas mati dan hidupnya.
Bagaimana semesta jadinya tanpa penerang? Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama? Bagaimana dunia tanpa cahaya penyampai wahyu?
Sungguh, Baginda tidak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek tubuhnya serta menumpahkan darahnya. Sungguh Baginda tidak bimbang, runcing anak panah yang akan menghunjam setiap inci tubuhnya.
Baginda hanya takut Allah. Muhammad, ya Muhammad...
Mereka berdua berhadapan dan bersepakat untuk berjaga mengikut giliran. Keakraban mempesona itu bukanlah suatu kebohongan. Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap uratan di wajah indah itu dia perhatikan seksama. Aduhai betapa dia mencintai putera Abdullah.
Kelelahan yang mendera setelah perjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Wajah didepannya yang saat itu berada nyata, meleburkan penat yang dirasai. Hanya pada satu nama yang tersemat didalam dadanya, CINTA!
Kemudian Nabi Muhammad SAW melabuhkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar seperti anak kecil, Abu Bakar berenang dalam samudera kegembiraan yang sempurna. Tidak sama yang dapat mempesonakan selama dia hidup kecuali saat kepala Nabi yang 'Ummi' berbantalkan kedua pahanya.
Mata Rasulullah terpejam. Dengan berhati-hati seperti seorang ibu, telapak tangan Abu Bakar mengusap peluh di kening Rasulullah SAW. Masih dalam senyap, Abu Bakar terus terpesona dengan susuk cinta yang sedang beristirehat dipangkuannya. Sebuah rasa mengalun dalam hatinya "Allah, betapa ingin hamba menikmati ini selamanya".
Nafas harum itu terhembus satu persatu yang menyapa di wajah Abu Bakar. Abu Bakar tersenyum sepenuh kalbu. Dia menatapnya lagi, tak bosan. Seketika wajahnya muram, dia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu purnama Madinah seperti memburu haiwan buruan.
Bagaimana mungkin mereka begitu keji mengganggu cucu Abdul Mutalib, yang begitu jujur dan amanah. Mendung di wajah Abu Bakar belum juga surut. Sebuah kuntum keazaman memekar di dasar hatinya, begitu semerbak.
Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada disampingmu untuk membelamu dan tak akan membiarkan sesiapa pun mengganggumu.
Kesunyian tetap terasa. Gua itu begitu dingin. Abu Bakar menyandarkan tubuhnya didinding gua. Rasulullah SAW, masih tetap dalam lenanya.
Tiba-tiba sahaja, seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar melihatnya penuh waspada, ingin sekali dia menarik kedua kakinya untuk menjauhi dari binatang yang berbisa ini.
Namun, keinginan itu diendahkan dari benaknya, tak ingin dia mengganggu tidur lena Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin, dia tidak membangunkan kekasihnya itu. Abu Bakar menahan sakit, ketika itu ular mematuk pergelangan kakinya, tapak kakinya dibiarkan sahaja tidak bergerak sedikit pun. Ular itu meninggalkan mereka setelah beberapa seketika.
Dalam keheningan, sekujur tubuhnya terasa panas. Bias ular menjalar ke seluruh tubuhnya. Abu Bakar menangis dalam diam. Rasa sakit itu tidak dapat ditahan lagi.
Tanpa sengaja, air matanya menitis mengenai pipi Rasulullah SAW yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya, kekhuatiran terbukti, Rasulullah SAW terjaga dan menatapnya penuh dengan rasa ingin tahu.
"Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis kerana menyesal mengikuti perjalanan ini?" suara Rasulullah memenuhi ruang gua.
"Tentu saja tidak, saya redha dan ikhlas mengikutimu kemana jua," kata Abu Bakar yang masih dalam kesaakitan.
"Jadi mengapakah engkau menggugurkan air matamu?"
"Seekor ular baru sahaja mematukku, wahai putera Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat."
Rasulullah menatap Abu Bakar dengan penuh kehairanan, tidak berapa lama bibir manisnya bergerak, "Mengapa engkau tidak menghindarinya?"
"Aku bimbang mengejutkan engkau dari lenamu," jawab Abu Bakar sendu.
Sebenarnya dia kini menyesal kerana tidak dapat menahan air matanya jatuh mengenai pipi Rasulullah SAW dan membuatnya terjaga. Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar sahaja. Selanjutnya mata al-mustafa berkabut dan bening air mata tergenang dipelupuknya.
Betapa indah sebuah ukhuwah.
"Sungguh bahagia, aku memiliki seorang sepertimu wahai putera Abu Quhafah. Sesungguh Allah sebaik-baik pemberi balasan".
Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, al-mustafa memengang pergelangan kakinya yang dipatuk ular. Dengan menggunakan nama Allah Pencipta semesta alam, Nabi mengusap bekas patukan ular itu dengan air liurnya.
Maha suci Allah, sketika rasa sakit itu tiada lagi. Abu Bakar segera menarik kakinya kerana malu. Nabi masih memandangnya dengan rasa penuh kasih sayang.
"Bagaimana mungkin, mereka iaitu para kafir sanggup menyakiti manusia indah sepertimu. Bagaimana mungkin?" kata Abu Bakar.
Gua Thur kembali ditelan kegelapan malam. Kini giliran Abu Bakar beristirehat dan Rasulullah SAW pula berjaga. Abu Bakar menggelengkan kepala ketika Rasulullah menawarkan pangkuan Baginda.
"Tak ku rela diriku membebani pangkuan penuh abbarakah itu."
Kita pasti tahu siapa Abu Bakar. Beliau adalah lelaki pertama yang memeluk Islam dan juga salah seorang sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah. Dari kembara sejarah, kita kenang cinta Abu Bakar terhadap Al-Mustafa.
Abu Bakar wafat pada usia 63 tahun, pada saat peperangan atas bangsa Romawi di Yarmuk. Jenazahnya dikebumikan disebelah manusia yang paling dicintainya, iaitu Makan Rasulullah SAW. Dia mencintai Nabinya melebihi diri sendiri.
Tidakkah itu mempersonakan?

cinta yang sangat sederhana...

namun keagungannya begitu bermakna...

menyimpan sejuta hikmah akan hakikatnya mencinta...

tiada menyakiti... hanya ingin memberi...

walau pada akhirnya harus mengorbankan diri sendiri...

tapi Sang Maha Pencipta tidak pernah tidur....

ia membalas cinta lelaki istimewa dengan menjadikannya salah satu orang pertama yang akan masuk ke surga bersama kekasihnya....


ekspresi cinta untuk Al Mustafa....

Allahumma shallli'ala Muhammad wa'ala ali Muhammad.....


Ya Allah,,bangkitkanlah kami kelak sebagai golongan orang-orang yang mencintaiMu dan mencintai Rasul Mu... Pertemukan kami dengan Rasulullah Shallallahu'alayhi wa Sallam....


Aamiin Ya Rabbal'alamiin....




karena cinta nya tak pernah mati...

akan selalu hidup abadi....

jangan lagi salah mengekspresikan cinta....